Storage untuk Bisnis: Multiplatform vs Single Platform
Di era informasi ini, jumlah data yang dihasilkan dari berbagai aktivitas bisnis semakin besar. Bagi perusahaan, selain harus terus menyediakan kapasitas yang memadai, regulasi baru seperti Sarbanes-Oxley Act (SOX) mewajibkan mereka menyimpan data selama periode tertentu.
Jenis data yang harus dikelola perusahaan pun semakin beragam, bukan hanya data terstruktur tradisional seperti yang biasa ditemui dalam aplikasi database, tetapi juga data tak terstruktur. E-mail, dokumen, gambar dan video adalah contoh data tak terstruktur. Faktanya, pertumbuhan data tak terstruktur lebih cepat dibandingkan data terstruktur.
Fakta tersebut baru menunjukkan pertumbuhan data di data center utama. Regulasi mewajibkan perusahaan mengamankan datanya dari bencana dengan menyiapkan fasilitas backup. Keberadaan fasilitas backup berarti membuat salinan dari seluruh data utama sebagai cadangan, baik itu data terstruktur maupun data tak terstruktur.
IDC memperkirakan pertumbuhan rata-rata tahunan data hasil replikasi ini selama 2005-2011 mencapai 43,9%. Pertumbuhan data tereplikasi tidak hanya didorong kewajiban membuat sistem backup tetapi juga dari penggunaan aplikasi analisa bisnis (business intelligence).
Menurut IDC, total konsumsi kapasitas storage yang mencakup data terstruktur, data tak terstruktur dan data tereplikasi, secara global diperkirakan mencapai lebih dari 20 exabyte (EB) hingga 2011. Namun perusahaan bukan hanya harus mengelola tiga jenis data tersebut, ada satu jenis data lagi, yakni data arsip.
Arti data arsip adalah data-data penting atau wajib disimpan tetapi jarang diakses, misalnya data pasien yang hanya dibutuhkan misalnya ketika pasien dalam perawatan. Jumlah data arsip ini bisa jauh lebih besar dibandingkan total ketiga jenis data yang disebutkan sebelumnya.
Hingga 2011, jumlah data arsip ini mencapai 50EB, atau dua kali lipat lebih besar dibandingkan total data terstruktur, tak terstruktur dan tereplikasi, seperti dalam proyeksi IDC.
Pendekatan-Multiplatform
Pada umumnya perusahaan menyediakan sistem storage yang berbeda untuk penggunaan tiap-tiap jenis data dan sesuai dengan tingkat kepentingannya. Ada sistem sendiri untuk data dokumen, untuk mengelola data sesuai tipe konten dan data arsip.
Akhirnya, infrastruktur storage perusahaan terdiri dari berbagai macam merek dengan platform-nya masing-masing. Mengelola sistem storage yang terdiri dari aneka merek dan platform ini tentu saja lebih sulit dan kompleks. Perusahaan harus menyediakan sumber daya untuk setiap jenis sistem yang berujung pada peningkatan biaya operasional sistem teknologi informasi.
Untuk memperkirakan kebutuhan storage secara akurat saja sulit karena ketiadaan fasilitas pengelolaan terpusat yang mampu mengintegrasikan aneka merek dan platform. Keragaman itu menciptakan pulau-pulau storage yang tidak memungkinkan berbagi kapasitas antar sistem. Kompleksitas lain misalnya ketika membuat arsip untuk data yang berbeda jenisnya, sebagai contoh e-mail, dokumen, aplikasi akuntansi dan Web. Setiap jenis data harus disimpan dalam sistem arsip yang terpisah. Pemisahan ini membuat pencarian data semakin sulit karena harus dilakukan di tiap-tiap sistem.
Padahal, bisnis membutuhkan data itu tersedia dalam waktu singkat untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Ujung-ujungnya, kompleksitas menghambat pergerakan bisnis yang iklimnya saat ini semakin dinamis. Lambat sedikit, kompetitor siap menyalip. Kompleksitas membuat perusahaan kehilangan daya saing.
Satu platform untuk semua
Pendekatan Hitachi Data Systems untuk menjawab berbagai tantangan tersebut adalah menyediakan satu platform universal yang mampu mengintegrasikan berbagai jenis kebutuhan storage. Komponen inti pemersatu aneka merek dan platform tersebut adalah storage controller : Universal Storage Platform (USP) dan USP VM.
Cara kerja USP adalah menjadi semacam penghubung antar sistem dan platform.
Berada di tengah, USP menjadi pusat kendali dan pengguna cukup mengelola berbagai sistem storage itu melalui USP. Kemampuan USP ini disebut sebagai virtualisasi: ada banyak sistem storage namun terlihat hanya sebagai satu sistem saja. Banyak terlihat satu.
Salah satu kemudahan pengelolaan sistem lewat virtualisasi ini adalah berbagi kapasitas. Ketika disk di satu sistem sudah penuh, data bisa disimpan dalam disk di sistem yang lain. Contoh lain, jika satu sistem gagal, sistem lain langsung bisa menggantikan.
Virtualisasi ini adalah salah satu komponen inti dari visi Hitachi Data Systems yang lebih besar tentang infrastruktur storage. Visi tersebut adalah Services Oriented Storage Solutions (SOSS) yang bertujuan menyelaraskan teknologi informasi, terutama infrastruktur storage dengan kebutuhan bisnis.
Menurut pendekatan ini, storage bukan hanya dilihat sebagai infrastruktur yang terdiri dari peranti keras dan peranti lunak, tetapi sebagai sebuah layanan yang berfungsi mendukung bisnis. Tolok ukur keberhasilan infrastruktur storage tidak lagi hanya dinilai dari besarnya kapasitas data, melainkan seberapa besar kontribusinya dalam mendongkrak kinerja bisnis sekaligus menekan biaya.
You can leave a response, or trackback from your own site.
Reinhart
May 16th, 2008 at 11:17 pm
Hmmm.. I am agree with your article, about one platform for all. But better if you use distributed platform to control your business branches. The successful of storage infrastructure come from how many your branches or department utilize its platform storage for their distribution data between department. But the problem, some times there are too many types of business data have tobe configured or verified by platform. it will cause botleneck even a black hole data in your platform (lost of update data problem, migration data and lost of transmission data problem). Of course it would be expensive platform if the platform can handle those problems. I wish there were platform is suitable for UKM or small business to support their distribution data and storage business data.
Sincerely,
Reinhart