Saatnya storage hemat energi
Krisis listrik saat ini sudah pada taraf mencemaskan. Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah telah mencanangkan proyek pembangkit listrik 10.000 MW yang diharapkan selesai pada 2009. Sambil menunggu, ada SKB lima menteri yang mengatur penghematan listrik yang termasuk juga di sektor industri.
Penambahan kapasitas memang sudah pada waktunya, apalagi Indonesia mulai pulih dari krisis ekonomi. Pertumbuhan bisnis akan mendorong permintaan listrik. Namun pendekatan menuntaskan masalah kelistrikan ini tidak cukup hanya dengan menambah dan terus menambah kapasitas.
Penambahan kapasitas perlu diimbangi juga dengan menggunakan listrik secara lebih bijak, lebih efisien, lebih hemat. Jadi dengan kapasitas listrik yang tersedia, bisa digunakan untuk lebih banyak hal. Jika tidak berapapun kapasitas yang tersedia, pasti selalu habis. Kita selalu merasa kekurangan.
Di era knowledge economy ini, bisnis tergantung pada teknologi informasi (TI), dan sistem TI sangat tergantung pada ketersediaan listrik. Tidak ada listrik, maka tidak ada sistem TI. Jantung dari sistem TI adalah data center termasuk di dalamnya storage dan server.
Di tingkat global, konsumsi listrik data center sudah menjadi perhatian. Di AS misalnya, sebuah laporan menyebutkan selama 2005, listrik yang disedot data center mencakup 1,2% dari total konsumsi listrik negara itu. Secara global, biaya listrik data center meningkat drastis dari US$3,2 miliar pada 2000 menjadi US$7,2 miliar pada 2005. Data center selain terdiri dari server juga ada pendingin. Menurut Gartner, setiap watt yang digunakan sebuah mesin (server atau storage), dibutuhkan 1 sampai 1,5 watt tambahan untuk pendinginan.
Khusus untuk storage, dari total konsumsi listrik data center, sebanyak 37% dihabiskan untuk storage. Dibandingkan dengan mainframe, storage pada dasarnya lebih tidak efisien. Utilisasinya cuma 45% dibandingkan mainframe yang bisa mencapai 85%.
Storage hemat listrik, ramah lingkungan
Lalu bagaimana storage bisa mengurangi konsumsi listrik dan berkontribusi juga pada inisiatif Green IT? Steve Murphy, Managing Director Hitachi Data Systems untuk Inggris Raya dan Irlandia punya solusinya. Berikut lima langkah untuk tidak saja menghemat listrik tetapi juga ikut serta mengurangi jejak karbon pada storage:
1. Kurangi titik-titik panas (hotspot) pada data center. Rak-rak storage dan server harus ditata sedemikian rupa sehingga ada lorong panas dan dingin. Manfaatkan kemampuan virtualisasi untuk mengkonfigurasikan mesin tanpa gangguan.
2. Terapkan strategi virtualisasi. Posisikan ulang titik-titik panas tanpa menimbulkan gangguan pada seluruh sistem, gunakan satu controller dan antar muka untuk meningkatkan utilisasi sumber daya yang sudah terpasang.
3. Konsolidasikan storage. Sistem-sistem yang saling terpisah itu tidak efisien karena memakan sumber daya yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Ke depan, rencanakan secara hati-hati kebutuhan storage dan konsolidasikan, pangkas jumlah mesin yang digunakan. Pertimbangkan untuk menggunakan sistem network-attached storage terpusat untuk menekan biaya listrik, pendinginan dan ruang.
4. Gunakan layanan untuk merancang infrastruktur secara benar. Kajilah kemungkinan menggunakan jasa profesional ketika merancang arsitektur storage. Buang peralatan yang sudah uzur.
5.Teliti secara seksama track record dari vendor. Gali sedalam-dalamnya apakah unsur-unsur ramah lingkungan dan kesinambungan teknologi sudah mendarah-daging, terpatri sebagai ‘DNA’ dari vendor storage tersebut. Periksa juga seberapa dalam mereka menguasai supply chain, dan apakah mereka punya roadmap untuk menekan dampak lingkungan dari teknologinya.
Mudah-mudahan krisis energi yang kita hadapi sekarang ini segera berlalu.
You can leave a response, or trackback from your own site.
Post a Comment