Edwin Lim, Country Manager Hitachi Data Systems untuk Indonesia, tentang dunia storage dan bagaimana menyelaraskan arsitektur storage dengan kebutuhan bisnis

» Blog

Hitachi Data Systems ikut Indonesia Japan Expo 2008

November 1st, 2008 under Berita, Events, Green storage | No Comments »

Hitachi Data Systems ikut meramaikan Indonesia Japan Expo (JIEXPO) 2008 di Kemayoran, Jakarta yang berlangsung hingga 9 November 2008, sebagai bagian dari induk perusahaan Hitachi Ltd. JIEXPO adalah kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang. Booth Hitachi Ltd ada di JIEXPO 2008 Hall A3, Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Jakarta.

Dalam pameran tersebut Hitachi Data Systems menampilkan teknologi green storage yang ikut memperkuat misi Hitachi Ltd menyediakan rangkaian teknologi ramah lingkungan dan terdepan untuk membangun masyarakat Indonesia.

Hitachi menggunakan pendekatan Service Oriented Storage Solutions (SOSS) untuk menerapkan kedua strategi storage hijau di atas. Pendekatan SOSS ini memusatkan semua storage, data, dan layanan konten dan meringankan beban server aplikasi storage. Dengan demikian, server aplikasi storage bisa fokus memberikan layanan storage seperti pengarsipan, konsolidasi dan virtualisasi, termasuk pada infrastruktur storage lama.

SOSS bukanlah utility storage ataupun storage as service. Dalam utility storage, kapasitas disalurkan seperti layanan listrik namun pelanggan dikunci sedemikian rupa melalui kontrak dari vendor sehingga menyulitkan mereka merespon perubahan bisnis. Sementara itu, storage as service -sama seperti software as services (SaaS), adalah layanan solusi khusus seperti backup lewat Internet maupun replikasi ke remote site.

SOSS adalah kemampuan untuk mengkombinasikan aset storage yang lama dan baru sehingga bermanfaat menjalankan layanan storage sesuai perubahan kebutuhan bisnis. SOSS memungkinkan TI melihat storage sebagai satu kesatuan yang utuh. Ketika ada kebutuhan, penanganannya tidak lagi melalui pendekatan solusi storage yang terpisah-pisah.

Polling Hitachi: Teknologi hijau tidak mahal

October 7th, 2008 under Artikel, Green storage, Strategi Storage | No Comments »

Niat awalnya adalah ikut menjaga kelestarian lingkungan dengan memakai kertas daur ulang. Namun apa daya, harga kertas daur ulang ternyata lebih mahal daripada kertas baru dari pabrik. Mungkin pengalaman inilah yang membuat perusahaan enggan terlibat dalam gerakan pelestarian lingkungan, seperti menggunakan teknologi yang ramah lingkungan. Masih ada persepsi bahwa teknologi ramah lingkungan –disebut juga teknologi hijau- pastilah berbiaya mahal.

Tapi polling Hitachi Data Systems menunjukkan sebaliknya, aksi perusahaan untuk beroperasi secara lebih ramah pada lingkungan -disebut juga dengan ‘going green-’ diyakini mampu menghemat berbagai biaya terkait teknologi informasi. Sebanyak 83% responden menyatakan aksi go green bisa menghemat biaya. Sementara itu, sebanyak 17% di antaranya meyakini kriteria ramah lingkungan tersebut tidak harus berupa efisiensi biaya.

Polling online ini dilakukan dalam rangka Hitachi Data Systems IT Inspiration Awards yang memberikan penghargaan kepada penerapan terbaik dari teknologi di kawasan Asia Pasifik. Ajang apresiasi ini terbuka bagi masyarakat umum di situs www.hds.com/apac/itia. Situs Web tersebut juga menyelenggarakan polling tentang berbagai isu mutakhir di industri storage yang hasilnya akan menjadi masukan bagi para pelaku industri.

Penerapan kriteria pengukuran yang ramah lingkungan dalam industri TI terus menjadi topik diskusi. Hu Yoshida, VP dan CTO, Hitachi Data Systems memperkirakan peranti keras storage menyerap sekitar 25% dari total konsumsi daya pada data center. Jelas terlihat dampak lingkungan dari beban pertumbuhan data dan pengelolaan sistem storage yang tidak efisien. Memangkas konsumsi daya untuk storage bisa menurunkan tagihan listrik yang berujung pada penghematan biaya.

Masalah lingkungan kini semakin berpengaruh ketika membicarakan anggaran TI, merancang data center dan menyusun program corporate social responsibility (CSR). Hubungan antara departemen TI dan bagian perencanaan harus lebih erat. Saat ini, manajer TI secara tradisional hanya berfokus pada skalabilitas dan kinerja ketika memutuskan pembeliaan.

Ruangan dan kebutuhan daya adalah masalah bagian perencanaan. Organisasi harus mengambil pendekatan yang lebih menyeluruh dan dengan seksama memeriksa bagaimana setiap bagian data center bisa memperbaiki dampak lingkungan -sekaligus menekan tingkat konsumsi daya.