Niat awalnya adalah ikut menjaga kelestarian lingkungan dengan memakai kertas daur ulang. Namun apa daya, harga kertas daur ulang ternyata lebih mahal daripada kertas baru dari pabrik. Mungkin pengalaman inilah yang membuat perusahaan enggan terlibat dalam gerakan pelestarian lingkungan, seperti menggunakan teknologi yang ramah lingkungan. Masih ada persepsi bahwa teknologi ramah lingkungan –disebut juga teknologi hijau- pastilah berbiaya mahal.
Tapi polling Hitachi Data Systems menunjukkan sebaliknya, aksi perusahaan untuk beroperasi secara lebih ramah pada lingkungan -disebut juga dengan ‘going green-’ diyakini mampu menghemat berbagai biaya terkait teknologi informasi. Sebanyak 83% responden menyatakan aksi go green bisa menghemat biaya. Sementara itu, sebanyak 17% di antaranya meyakini kriteria ramah lingkungan tersebut tidak harus berupa efisiensi biaya.
Polling online ini dilakukan dalam rangka Hitachi Data Systems IT Inspiration Awards yang memberikan penghargaan kepada penerapan terbaik dari teknologi di kawasan Asia Pasifik. Ajang apresiasi ini terbuka bagi masyarakat umum di situs www.hds.com/apac/itia. Situs Web tersebut juga menyelenggarakan polling tentang berbagai isu mutakhir di industri storage yang hasilnya akan menjadi masukan bagi para pelaku industri.
Penerapan kriteria pengukuran yang ramah lingkungan dalam industri TI terus menjadi topik diskusi. Hu Yoshida, VP dan CTO, Hitachi Data Systems memperkirakan peranti keras storage menyerap sekitar 25% dari total konsumsi daya pada data center. Jelas terlihat dampak lingkungan dari beban pertumbuhan data dan pengelolaan sistem storage yang tidak efisien. Memangkas konsumsi daya untuk storage bisa menurunkan tagihan listrik yang berujung pada penghematan biaya.
Masalah lingkungan kini semakin berpengaruh ketika membicarakan anggaran TI, merancang data center dan menyusun program corporate social responsibility (CSR). Hubungan antara departemen TI dan bagian perencanaan harus lebih erat. Saat ini, manajer TI secara tradisional hanya berfokus pada skalabilitas dan kinerja ketika memutuskan pembeliaan.
Ruangan dan kebutuhan daya adalah masalah bagian perencanaan. Organisasi harus mengambil pendekatan yang lebih menyeluruh dan dengan seksama memeriksa bagaimana setiap bagian data center bisa memperbaiki dampak lingkungan -sekaligus menekan tingkat konsumsi daya.
Storage yang berorientasikan layanan, dikenal juga sebagai Services Oriented Storage (SOS) bermula dari satu ide sederhana, yakni perencanaan storage harus berpusat kepada kebutuhan dari pengguna untuk memenuhi ataupun melampaui SLA (Service Level Agreement).
Pendekatan pada SOA pun lebih memperhatikan sisi pengguna dibandingkan pada didikte oleh produk dan teknologi. Hasilnya, kondisi ideal dimana sistem penyimpanan dapat memenuhi kebutuhan bisnis saat ini dan di masa datang tanpa harus melakukan investasi teknologi secara berlebihan atau kekurangan. Pokoknya pas !
Dalam situasi ekonomi yang sangat kompetitif akhir-akhir ini, perusahaan harus lebih berhati-hati dalam merencanakan infrastruktur teknologi pendukung bisnis. Tekanan-tekanan dari sisi keuangan yang hanya akan melakukan investasi untuk hal-hal yang secara langsung dapat mendukung kinerja perusahaan, membuat pendekatan investasi storage dengan cara mengurangi kompleksitas IT, peningkatan efisiensi operasional dan resiko manajemen sebagai cara yang paling masuk akal.
Service Oriented Storage juga memungkinkan suatu organisasi merespon dengan cepat perubahan-perubahan yang terjadi di dunia bisnis dan teknologi. Beberapa poin dari pendekatan Service Oriented Storage adalah:
1. Mengurangi pengeluaran dan meningkatkan efisiensi dengan mengurangi kompleksitas dari infrastruktur IT dan otomatisasi proses manajemen data penyimpanan.
2. Pengawasan yang terpusat bagi perlengkapan-perlengkapan yang berasal dari beberapa vendor yang berbeda.
3. Memacu utilisasi penggunaan sistim storage.
4. Meningkatkan kemampuan dan keampuhan sistim storage untuk menjaga konsistensi SLA.
5. Menyediakan aturan-aturan yang dapat digunakan untuk mengukur dan mengotomatisasikan sistim pelayanan storage.
Hitachi Data Systems dapat memenuhi kebutuhan unik dari setiap pelanggan dengan penerapan “Services Oriented Storage Solutions” secara penuh. Dengan solusi-solusi seperti “content archiving” dan “storage virtualization” sampai dengan “business consolidation” dan “business continuity”, Hitachi Data Systems dapat membantu menyelaraskan infrastruktur storage dengan kebutuhan bisnis sehingga IT selalu berjalan seiring dengan bisnis dikala berkembang dan berubah.
Storage selama ini hanya dipandang sebagai suatu kumpulan hardware dan software. Bahkan, banyak perusahaan yang memandang fungsi storage hanya sebatas dari kapasitasnya saja.
Akibat dari cara pandang seperti ini, perusahaan hanya terus dan terus menambah kapasitas storage tanpa mempertimbangkan manajemen data. Cepat atau lambat infrastruktur penyimpanan data perusahaan menjadi sangat kompleks, sulit dikelola dan mahal biaya perawatannya. Manajemen data menjadi sulit dan proses pengambilan data memakan waktu lama, sehingga dapat mempengaruhi aktifitas bisnis perusahaan yang memerlukan respon yang cepat.
Dibutuhkan cara pandang yang baru tentang storage. KPI (Key Performance Indicator) storage bukan lagi berdasarkan daya tampung, tetapi keberhasilan dalam mencapai satu tujuan dengan cepat dan efisien. Tujuan tersebut tentu saja berhubungan dengan fungsi yang berorientasi pada kebutuhan bisnis.
Storage dilihat sebagai suatu layanan, bukan lagi software dan hardware, apalagi cuma hard disk. Analoginya mungkin seperti tukang cukur. Sebagai sebuah layanan yang diberikan oleh tukang cukur, bagi pelanggan yang terpenting adalah rambutnya dipangkas dengan rapi. Pelanggan tidak mau tahu peralatan apa yang digunakan dan bagaimana cara memotong si tukang cukur, yang penting hasilnya.
Lalu sebagai sebuah layanan, apa hasil yang diharapkan dari storage? Kembali lagi kepada bisnis, yakni seberapa cepat infrastruktur storage menyesuaikan diri dengan kebutuhan bisnis yang senantiasa berubah. Kebutuhan atau bisa dibilang tuntutan bisnis ini macam-macam, mulai dari menekan biaya operasional, meningkatkan produktivitas, mendongkrak efisiensi dan mengembangkan pasar.
Service Oriented Storage Solutions
Pendekatan Hitachi Data Systems untuk membuat storage sebagai layanan adalah melalui Service Oriented Storage Solutions (SOSS). Secara singkat SOSS bertujuan menyediakan platform yang bisa dengan mudah dikonfigurasikan ulang dan dioptimalkan sesuai dengan kebutuhan bisnis yang senantiasa berubah.
Menurut Hu Yoshida, Chief Technology Officer (CTO) Hitachi Data Systems, SOSS ini adalah solusi yang menyediakan pendekatan storage berorientasi proses. Pendekatan Hitachi ini bertolak belakang dari pendekatan piecemeal, berbasis tugas yang pada akhirnya menciptakan redundancy berlebih pada storage, ujung-ujungnya adalah kompleksitas.
Hitachi Data Systems sudah bertahun-tahun mengembangkan portofolio teknologi yang berbasis SOSS ini, antara lain virtualisasi dari control unit, pengelolaan storage terintegrasi, business continuity dan data mobility.
Usaha kecil dan Menengah (UKM) saat ini semakin tergantung pada infrastruktur teknologi informasi (TI) agar lincah bergerak di tengah iklim bisnis yang cepat berubah. Investasi TI mereka mencerminkan kenyataan tersebut.
Lembaga riset spesialis UKM AMI Partners memperkirakan UKM di Asia Pasifik (kecuali Jepang) tahun ini akan membelanjakan sekitar US$95 miliar untuk hal-hal terkait TI, atau meningkat 16% dibandingkan tahun lalu. Salah satu alokasi belanja dengan pertumbuhan terbesar adalah sistem storage yang diproyeksikan meningkat hingga 20% tahun ini.
Bagi UKM, mungkin kebutuhan akan sistem storage bahkan lebih tinggi dibandingkan perusahaan berskala besar. Buat mereka, satu server saja yang rusak, maka seluruh bisnis bisa hilang. Berbeda dibandingkan perusahaan besar yang memiliki banyak server sehingga masih bisa beroperasi. Bagi perusahaan kecil yang menawarkan solusi unik, kecolongan pada sistem keamanan bisa membahayakan bisnis mereka di masa depan.
Memang saat ini kita hidup di era information economy dan bagi bisnis skala kecil seperti perusahaan jasa arsitektur dan agen pemasaran, perlindungan data adalah komponen kunci melindungi keunggulan bisnisnya.
Akan tetapi, walaupun perusahaan besar dan UKM sama-sama membutuhkan storage handal dan berkinerja tinggi, ada satu faktor yang lebih penting bagi UKM, yakni kesederhanaan.
Prinsip Kesederhanaan
Kesederhanaan ini begitu penting bagi pengusaha skala kecil. Karyawan di bisnis kecil biasanya memakai banyak ‘baju.’ Manajer TI bisa saja ikut dalam rapat-rapat bisnis dan seringkali mengerjakan banyak tugas sekaligus. Mungkin mereka tak memiliki banyak waktu, sumber daya maupun biaya seperti halnya perusahaan besar.
Mereka membutuhkan cara yang sesederhana mungkin untuk memenuhi kebutuhan storage. Bagi mereka, solusi storage yang sederhana bisa memangkas waktu yang dibutuhkan untuk menangani masalah terkait storage.
Singkatnya, mereka membutuhkan solusi yang cepat dan mudah dipasang dan dikelola. Biaya juga menjadi faktor penting. Keterbatasan biaya membuat UKM tak bisa menginvestasikan banyak uang untuk sekaligus membeli solusi storage yang dapat memenuhi kebutuhan mereka di masa depan.
Sebaliknya, investasi UKM dalam hal storage dimulai sedikit demi sedikit dan bertambah sesuai perkembangan perusahaan. Solusi yang sifatnya modular adalah hal terbaik karena mereka bisa meningkatkan kapasitas dan kemampuan arsitektur lama. Para produsen storage yang biasanya hanya mengemas ulang atau membatasi kemampuan produknya kini menyadari bahwa pendekatan seperti itu tidak bisa diterima segmen UKM.
Jelas terlihat bahwa UKM memiliki kebutuhan storage yang unik, sehingga solusinya pun perlu khusus dibuat untuk mereka.
Alasan inilah yang mendorong para spesialis storage seperti Hitachi Data Systems menginvestasikan cukup banyak sumber daya untuk merancang dan mengoptimalkan solusi storage untuk lingkungan UKM. Dan kesederhanaan menjadi prinsip utamanya.
Sentralisasi
Para pelaku UKM bukan saja mengerti manfaat sistem storage yang tersusun dalam jaringan (networked storage), mereka membutuhkannya. Sayangnya, seringkali mereka tak mampu membayar pakar storage. Beruntung karena solusi storage untuk UKM saat ini sudah menganut sistem “plug and play” -colok dan langsung pakai- dan cukup sederhana bagi manajer TI sehingga bisa dipasang sendiri.
Dengan demikian, banyak waktu dan biaya bisa dihemat karena tak perlu membayar spesialis storage untuk memasangnya. Sistem storage seperti ini dirancang sedemikian rupa sehingga orang dengan pengalaman minimal di bidang storage sekalipun bisa memasang dan mengelolanya.
Solusi storage UKM yang baik selayaknya juga dilengkapi dengan berbagai macam kebutuhan khusus bagi mereka, langsung di dalam paket produk. Kelengkapan ini mencakup peranti keras, switch, server, peranti lunak pengelolaan dan layanan dukungan. Selain itu, UKM dengan kebutuhan lebih rumit harus bisa memanfaatkan sistem yang sudah ada atau peranti lunak baru melalui system integrator.
Untuk mengurangi kompleksitas seputar storage, salah satu strategi kunci Hitachi untuk solusi UKM adalah menerapkan sistem sentralisasi data dari server-server terpisah ke dalam satu unit storage eksternal, persis seperti storage area network (SAN) sederhana sederhana. Selama ini, teknologi SAN hanya milik perusahaan berskala besar karena mahal dan rumit.
Produsen storage seperti Hitachi Data Systems kini sudah bisa menyederhanakan teknologi itu hingga mencapai satu titik di mana UKM pun bisa mengelolanya. Banyak manfaat dari pemanfaatan teknologi ini. Misalnya, unit storage eksternal tersentralisasi akan memudahkan akses, pengelolaan, perlindungan dan pembuatan backup. Jika diterjemahkan ke bahasa bisnis UKM, ini berarti memangkas biaya storage dan menekan tingkat downtime.
Ujung-ujungnya, UKM bisa mendongkrak kinerja bisnis karena data selalu tersedia. Satu hal yang paling penting, semua manfaat ini berarti menurunkan tingkat resiko bisnis akibat kerusakan atau kehilangan data.
Wujud kesederhanaan ini bukan hanya dalam hal instalasi, tetapi juga pengelolaannya.
Solusi storage modular kelas UKM juga perlu dipersenjatai dengan peranti lunak pengelolaan terpusat sehingga manajer TI bisa melihat semua sumber daya storage, lalu mengelolanya hanya dengan beberapa klik saja dari antar muka grafis yang menarik.
Mudah dijangkau
UKM berbisnis di lingkungan yang serba cepat sehingga pemeliharaan dan dukungan teknis sewajarnya bisa mengimbangi kecepatan tersebut. Apakah itu perbaikan disk yang rusak atau penambahan kapasitas storage, pertolongan harus bisa dijangkau secepatnya, semudah panggilan telepon atau beberapa klik. Jadi, kesederhanaan ini bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi menyangkut seluruh proses mulai dari pemesanan, pemasangan hingga pemeliharaan.
Betul-betul solusi sederhana namun handal, itulah yang dibutuhkan UKM. Cukup dengan satu storage dan fasilitas backup, UKM kini bisa menggunakannya untuk mendukung email server seperti Microsoft Exchange, aplikasi enterprise resource planning (ERP) dan customer relationship management (CRM), atau pun menangani beban kerja pengelolaan file dan printer -memenuhi semua kebutuhan komputasi dari bisnis.
Di era informasi ini, jumlah data yang dihasilkan dari berbagai aktivitas bisnis semakin besar. Bagi perusahaan, selain harus terus menyediakan kapasitas yang memadai, regulasi baru seperti Sarbanes-Oxley Act (SOX) mewajibkan mereka menyimpan data selama periode tertentu.
Jenis data yang harus dikelola perusahaan pun semakin beragam, bukan hanya data terstruktur tradisional seperti yang biasa ditemui dalam aplikasi database, tetapi juga data tak terstruktur. E-mail, dokumen, gambar dan video adalah contoh data tak terstruktur. Faktanya, pertumbuhan data tak terstruktur lebih cepat dibandingkan data terstruktur.
Fakta tersebut baru menunjukkan pertumbuhan data di data center utama. Regulasi mewajibkan perusahaan mengamankan datanya dari bencana dengan menyiapkan fasilitas backup. Keberadaan fasilitas backup berarti membuat salinan dari seluruh data utama sebagai cadangan, baik itu data terstruktur maupun data tak terstruktur.
IDC memperkirakan pertumbuhan rata-rata tahunan data hasil replikasi ini selama 2005-2011 mencapai 43,9%. Pertumbuhan data tereplikasi tidak hanya didorong kewajiban membuat sistem backup tetapi juga dari penggunaan aplikasi analisa bisnis (business intelligence).
Menurut IDC, total konsumsi kapasitas storage yang mencakup data terstruktur, data tak terstruktur dan data tereplikasi, secara global diperkirakan mencapai lebih dari 20 exabyte (EB) hingga 2011. Namun perusahaan bukan hanya harus mengelola tiga jenis data tersebut, ada satu jenis data lagi, yakni data arsip.
Arti data arsip adalah data-data penting atau wajib disimpan tetapi jarang diakses, misalnya data pasien yang hanya dibutuhkan misalnya ketika pasien dalam perawatan. Jumlah data arsip ini bisa jauh lebih besar dibandingkan total ketiga jenis data yang disebutkan sebelumnya.
Hingga 2011, jumlah data arsip ini mencapai 50EB, atau dua kali lipat lebih besar dibandingkan total data terstruktur, tak terstruktur dan tereplikasi, seperti dalam proyeksi IDC.
Pendekatan-Multiplatform
Pada umumnya perusahaan menyediakan sistem storage yang berbeda untuk penggunaan tiap-tiap jenis data dan sesuai dengan tingkat kepentingannya. Ada sistem sendiri untuk data dokumen, untuk mengelola data sesuai tipe konten dan data arsip.
Akhirnya, infrastruktur storage perusahaan terdiri dari berbagai macam merek dengan platform-nya masing-masing. Mengelola sistem storage yang terdiri dari aneka merek dan platform ini tentu saja lebih sulit dan kompleks. Perusahaan harus menyediakan sumber daya untuk setiap jenis sistem yang berujung pada peningkatan biaya operasional sistem teknologi informasi.
Untuk memperkirakan kebutuhan storage secara akurat saja sulit karena ketiadaan fasilitas pengelolaan terpusat yang mampu mengintegrasikan aneka merek dan platform. Keragaman itu menciptakan pulau-pulau storage yang tidak memungkinkan berbagi kapasitas antar sistem. Kompleksitas lain misalnya ketika membuat arsip untuk data yang berbeda jenisnya, sebagai contoh e-mail, dokumen, aplikasi akuntansi dan Web. Setiap jenis data harus disimpan dalam sistem arsip yang terpisah. Pemisahan ini membuat pencarian data semakin sulit karena harus dilakukan di tiap-tiap sistem.
Padahal, bisnis membutuhkan data itu tersedia dalam waktu singkat untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Ujung-ujungnya, kompleksitas menghambat pergerakan bisnis yang iklimnya saat ini semakin dinamis. Lambat sedikit, kompetitor siap menyalip. Kompleksitas membuat perusahaan kehilangan daya saing.
Satu platform untuk semua
Pendekatan Hitachi Data Systems untuk menjawab berbagai tantangan tersebut adalah menyediakan satu platform universal yang mampu mengintegrasikan berbagai jenis kebutuhan storage. Komponen inti pemersatu aneka merek dan platform tersebut adalah storage controller : Universal Storage Platform (USP) dan USP VM.
Cara kerja USP adalah menjadi semacam penghubung antar sistem dan platform.
Berada di tengah, USP menjadi pusat kendali dan pengguna cukup mengelola berbagai sistem storage itu melalui USP. Kemampuan USP ini disebut sebagai virtualisasi: ada banyak sistem storage namun terlihat hanya sebagai satu sistem saja. Banyak terlihat satu.
Salah satu kemudahan pengelolaan sistem lewat virtualisasi ini adalah berbagi kapasitas. Ketika disk di satu sistem sudah penuh, data bisa disimpan dalam disk di sistem yang lain. Contoh lain, jika satu sistem gagal, sistem lain langsung bisa menggantikan.
Virtualisasi ini adalah salah satu komponen inti dari visi Hitachi Data Systems yang lebih besar tentang infrastruktur storage. Visi tersebut adalah Services Oriented Storage Solutions (SOSS) yang bertujuan menyelaraskan teknologi informasi, terutama infrastruktur storage dengan kebutuhan bisnis.
Menurut pendekatan ini, storage bukan hanya dilihat sebagai infrastruktur yang terdiri dari peranti keras dan peranti lunak, tetapi sebagai sebuah layanan yang berfungsi mendukung bisnis. Tolok ukur keberhasilan infrastruktur storage tidak lagi hanya dinilai dari besarnya kapasitas data, melainkan seberapa besar kontribusinya dalam mendongkrak kinerja bisnis sekaligus menekan biaya.