Edwin Lim, Country Manager Hitachi Data Systems untuk Indonesia, tentang dunia storage dan bagaimana menyelaraskan arsitektur storage dengan kebutuhan bisnis

» Blog

Hitachi AMS 2000 Series

October 19th, 2008 under Berita, UKM | No Comments »

Dalam hal infrastruktur storage, tantangan yang dihadapi bisnis skala kecil dan menengah sama saja dengan perusahaan skala besar. Keduanya sama-sama perlu storage yang cepat, handal, aman dan mudah digunakan. Mungkin perbedaan antara keduanya adalah dalam hal daya beli. Keterbatasan daya beli bisnis kecil dan menengah inilah yang membuat vendor pada umumnya menyediakan produk storage yang skalanya lebih kecil dan lebih terjangkau namun dengan mengorbankan beberapa fungsi secara signifikan.

Pendekatan itu kurang tepat. Risiko yang dihadapi bisnis skala kecil dan menengah justru lebih besar dari perusahaan besar. Jika terjadi kegagalan pada sistem, perusahaan besar dengan kekuatan finansialnya relatif lebih mudah pulih dibandingkan dengan bisnis skala kecil yang bisa membuat para pelanggannya lari dan tidak mau kembali lagi.

Hitachi mengubah pendekatan yang ketinggalan jaman itu melalui Adaptable Modular Storage 2000 Series (AMS 2000 Series) yang dilengkapi back-end SAS dengan active-active controller dan antar muka grafis yang sederhana. Kinerja Hitachi AMS Series 2000 ini empat kali lebih baik dari model sebelumnya. Tersedia koneksi storage untuk area network (SAN) dari iSCSI, NAS, dan Fibre Channel.

Keluarga AMS Series 2000 terdiri dari tiga : Hitachi AMS 2100, Hitachi AMS 2300, dan Hitachi AMS 2500. Semua portofolio sistem storage kelas menengah ini memenuhi standar “Five 9’s of availability”, yakni uptime hingga 99.999 persen.

Terobosan AMS 2000 Series antara lain Dynamic Load Balancing Controller yang berbeda dari asymmetrical controller pada sistem storage kelas menengah tradisional. Hitachi Dynamic Load Balancing Controller ini menghilangkan sumbatan  pada titik-titik yang menghambat daya tanggap I/O dengan memonitor tingkat utilisasi dan melakukan penyesuaian beban secara dinamis.

Ada juga SAS (Serial Attached SCSI) berkapasitas 3Gb per detik yang belum ada di sistem storage kelas menengah lainnya.  Komponen ini menghilangkan keterbatasan arsitektur dari disain loop melalui dukungan terhadap koneksi point-to-point 32 3Gb/s dengan kecepatan transfer data berbandwidth 9600 MB per detik.

Untuk menghemat konsumsi listrik, AMS 2000 Series menerapkan teknologi hard disk “Spin down; Spin up,” dimana pasokan daya kepada drive hard disk diturunkan ketika aplikasi bisnis tidak mengaksesnya, namun bisa dengan cepat dinaikkan ketika aplikasi tersebut membutuhkannya.

Informasi lebih lanjut tentang AMS 2000 Series bisa di klik disini

Saatnya storage hemat energi

July 17th, 2008 under Artikel, Manajemen storage, UKM | No Comments »

Krisis listrik saat ini sudah pada taraf mencemaskan. Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah telah mencanangkan proyek pembangkit listrik 10.000 MW yang diharapkan selesai pada 2009. Sambil menunggu, ada SKB lima menteri yang mengatur penghematan listrik yang termasuk juga di sektor industri.

Penambahan kapasitas memang sudah pada waktunya, apalagi Indonesia mulai pulih dari krisis ekonomi. Pertumbuhan bisnis akan mendorong permintaan listrik. Namun pendekatan menuntaskan masalah kelistrikan ini tidak cukup hanya dengan menambah dan terus menambah kapasitas.

Penambahan kapasitas perlu diimbangi juga dengan menggunakan listrik secara lebih bijak, lebih efisien, lebih hemat. Jadi dengan kapasitas listrik yang tersedia, bisa digunakan untuk lebih banyak hal. Jika tidak berapapun kapasitas yang tersedia, pasti selalu habis. Kita selalu merasa kekurangan.

Di era knowledge economy ini, bisnis tergantung pada teknologi informasi (TI), dan sistem TI sangat tergantung pada ketersediaan listrik. Tidak ada listrik, maka tidak ada sistem TI. Jantung dari sistem TI adalah data center termasuk di dalamnya storage dan server.

Di tingkat global, konsumsi listrik data center sudah menjadi perhatian. Di AS misalnya, sebuah laporan menyebutkan selama 2005, listrik yang disedot data center mencakup 1,2% dari total konsumsi listrik negara itu. Secara global, biaya listrik data center meningkat drastis dari US$3,2 miliar pada 2000 menjadi US$7,2 miliar pada 2005. Data center selain terdiri dari server juga ada pendingin. Menurut Gartner, setiap watt yang digunakan sebuah mesin (server atau storage), dibutuhkan 1 sampai 1,5 watt tambahan untuk pendinginan.

Khusus untuk storage, dari total konsumsi listrik data center, sebanyak 37% dihabiskan untuk storage. Dibandingkan dengan mainframe, storage pada dasarnya lebih tidak efisien. Utilisasinya cuma 45% dibandingkan mainframe yang bisa mencapai 85%.

Storage hemat listrik, ramah lingkungan

Lalu bagaimana storage bisa mengurangi konsumsi listrik dan berkontribusi juga pada inisiatif Green IT? Steve Murphy, Managing Director Hitachi Data Systems untuk Inggris Raya dan Irlandia punya solusinya. Berikut lima langkah untuk tidak saja menghemat listrik tetapi juga ikut serta mengurangi jejak karbon pada storage:

1. Kurangi titik-titik panas (hotspot) pada data center. Rak-rak storage dan server harus ditata sedemikian rupa sehingga ada lorong panas dan dingin. Manfaatkan kemampuan virtualisasi untuk mengkonfigurasikan mesin tanpa gangguan.

2. Terapkan strategi virtualisasi. Posisikan ulang titik-titik panas tanpa menimbulkan gangguan pada seluruh sistem, gunakan satu controller dan antar muka untuk meningkatkan utilisasi sumber daya yang sudah terpasang.

3. Konsolidasikan storage. Sistem-sistem yang saling terpisah itu tidak efisien karena memakan sumber daya yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Ke depan, rencanakan secara hati-hati kebutuhan storage dan konsolidasikan, pangkas jumlah mesin yang digunakan. Pertimbangkan untuk menggunakan sistem network-attached storage terpusat untuk menekan biaya listrik, pendinginan dan ruang.

4. Gunakan layanan untuk merancang infrastruktur secara benar. Kajilah kemungkinan menggunakan jasa profesional ketika merancang arsitektur storage. Buang peralatan yang sudah uzur.

5.Teliti secara seksama track record dari vendor. Gali sedalam-dalamnya apakah unsur-unsur ramah lingkungan dan kesinambungan teknologi sudah mendarah-daging, terpatri sebagai ‘DNA’ dari vendor storage tersebut. Periksa juga seberapa dalam mereka menguasai supply chain, dan apakah mereka punya roadmap untuk menekan dampak lingkungan dari teknologinya.

Mudah-mudahan krisis energi yang kita hadapi sekarang ini segera berlalu.

Kesederhanaan storage untuk kelincahan UKM

May 1st, 2008 under Artikel, Strategi Storage, UKM | 7 Comments »

Usaha kecil dan Menengah (UKM) saat ini semakin tergantung pada infrastruktur teknologi informasi (TI) agar lincah bergerak di tengah iklim bisnis yang cepat berubah. Investasi TI mereka mencerminkan kenyataan tersebut.

Lembaga riset spesialis UKM AMI Partners memperkirakan UKM di Asia Pasifik (kecuali Jepang) tahun ini akan membelanjakan sekitar US$95 miliar untuk hal-hal terkait TI, atau meningkat 16% dibandingkan tahun lalu. Salah satu alokasi belanja dengan pertumbuhan terbesar adalah sistem storage yang diproyeksikan meningkat hingga 20% tahun ini.

Bagi UKM, mungkin kebutuhan akan sistem storage bahkan lebih tinggi dibandingkan perusahaan berskala besar. Buat mereka, satu server saja yang rusak, maka seluruh bisnis bisa hilang. Berbeda dibandingkan perusahaan besar yang memiliki banyak server sehingga masih bisa beroperasi. Bagi perusahaan kecil yang menawarkan solusi unik, kecolongan pada sistem keamanan bisa membahayakan bisnis mereka di masa depan.

Memang saat ini kita hidup di era information economy dan bagi bisnis skala kecil seperti perusahaan jasa arsitektur dan agen pemasaran, perlindungan data adalah komponen kunci melindungi keunggulan bisnisnya.

Akan tetapi, walaupun perusahaan besar dan UKM sama-sama membutuhkan storage handal dan berkinerja tinggi, ada satu faktor yang lebih penting bagi UKM, yakni kesederhanaan.

Prinsip Kesederhanaan

Kesederhanaan ini begitu penting bagi pengusaha skala kecil. Karyawan di bisnis kecil biasanya memakai banyak ‘baju.’ Manajer TI bisa saja ikut dalam rapat-rapat bisnis dan seringkali mengerjakan banyak tugas sekaligus. Mungkin mereka tak memiliki banyak waktu, sumber daya maupun biaya seperti halnya perusahaan besar.

Mereka membutuhkan cara yang sesederhana mungkin untuk memenuhi kebutuhan storage. Bagi mereka, solusi storage yang sederhana bisa memangkas waktu yang dibutuhkan untuk menangani masalah terkait storage.

Singkatnya, mereka membutuhkan solusi yang cepat dan mudah dipasang dan dikelola. Biaya juga menjadi faktor penting. Keterbatasan biaya membuat UKM tak bisa menginvestasikan banyak uang untuk sekaligus membeli solusi storage yang dapat memenuhi kebutuhan mereka di masa depan.

Sebaliknya, investasi UKM dalam hal storage dimulai sedikit demi sedikit dan bertambah sesuai perkembangan perusahaan. Solusi yang sifatnya modular adalah hal terbaik karena mereka bisa meningkatkan kapasitas dan kemampuan arsitektur lama. Para produsen storage yang biasanya hanya mengemas ulang atau membatasi kemampuan produknya kini menyadari bahwa pendekatan seperti itu tidak bisa diterima segmen UKM.

Jelas terlihat bahwa UKM memiliki kebutuhan storage yang unik, sehingga solusinya pun perlu khusus dibuat untuk mereka.

Alasan inilah yang mendorong para spesialis storage seperti Hitachi Data Systems menginvestasikan cukup banyak sumber daya untuk merancang dan mengoptimalkan solusi storage untuk lingkungan UKM. Dan kesederhanaan menjadi prinsip utamanya.

Sentralisasi

Para pelaku UKM bukan saja mengerti manfaat sistem storage yang tersusun dalam jaringan (networked storage), mereka membutuhkannya. Sayangnya, seringkali mereka tak mampu membayar pakar storage. Beruntung karena solusi storage untuk UKM saat ini sudah menganut sistem “plug and play” -colok dan langsung pakai- dan cukup sederhana bagi manajer TI sehingga bisa dipasang sendiri.

Dengan demikian, banyak waktu dan biaya bisa dihemat karena tak perlu membayar spesialis storage untuk memasangnya. Sistem storage seperti ini dirancang sedemikian rupa sehingga orang dengan pengalaman minimal di bidang storage sekalipun bisa memasang dan mengelolanya.

Solusi storage UKM yang baik selayaknya juga dilengkapi dengan berbagai macam kebutuhan khusus bagi mereka, langsung di dalam paket produk. Kelengkapan ini mencakup peranti keras, switch, server, peranti lunak pengelolaan dan layanan dukungan. Selain itu, UKM dengan kebutuhan lebih rumit harus bisa memanfaatkan sistem yang sudah ada atau peranti lunak baru melalui system integrator.

Untuk mengurangi kompleksitas seputar storage, salah satu strategi kunci Hitachi untuk solusi UKM adalah menerapkan sistem sentralisasi data dari server-server terpisah ke dalam satu unit storage eksternal, persis seperti storage area network (SAN) sederhana sederhana. Selama ini, teknologi SAN hanya milik perusahaan berskala besar karena mahal dan rumit.

Produsen storage seperti Hitachi Data Systems kini sudah bisa menyederhanakan teknologi itu hingga mencapai satu titik di mana UKM pun bisa mengelolanya. Banyak manfaat dari pemanfaatan teknologi ini. Misalnya, unit storage eksternal tersentralisasi akan memudahkan akses, pengelolaan, perlindungan dan pembuatan backup. Jika diterjemahkan ke bahasa bisnis UKM, ini berarti memangkas biaya storage dan menekan tingkat downtime.

Ujung-ujungnya, UKM bisa mendongkrak kinerja bisnis karena data selalu tersedia. Satu hal yang paling penting, semua manfaat ini berarti menurunkan tingkat resiko bisnis akibat kerusakan atau kehilangan data.

Wujud kesederhanaan ini bukan hanya dalam hal instalasi, tetapi juga pengelolaannya.

Solusi storage modular kelas UKM juga perlu dipersenjatai dengan peranti lunak pengelolaan terpusat sehingga manajer TI bisa melihat semua sumber daya storage, lalu mengelolanya hanya dengan beberapa klik saja dari antar muka grafis yang menarik.

Mudah dijangkau

UKM berbisnis di lingkungan yang serba cepat sehingga pemeliharaan dan dukungan teknis sewajarnya bisa mengimbangi kecepatan tersebut. Apakah itu perbaikan disk yang rusak atau penambahan kapasitas storage, pertolongan harus bisa dijangkau secepatnya, semudah panggilan telepon atau beberapa klik. Jadi, kesederhanaan ini bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi menyangkut seluruh proses mulai dari pemesanan, pemasangan hingga pemeliharaan.

Betul-betul solusi sederhana namun handal, itulah yang dibutuhkan UKM. Cukup dengan satu storage dan fasilitas backup, UKM kini bisa menggunakannya untuk mendukung email server seperti Microsoft Exchange, aplikasi enterprise resource planning (ERP) dan customer relationship management (CRM), atau pun menangani beban kerja pengelolaan file dan printer -memenuhi semua kebutuhan komputasi dari bisnis.